Etnosentrisme, Xenophobia, Stereotip, dan pluralisme budaya

Mengatasi Etnosentrisme dan Stereotip

Meskipun berada didalam negara multicultural seperti Indonesia, konflik tetap mungkin terjadi jika setiap individu dan kelompok berbeda budaya tersebut cenderung memlakukan persepsi selektif dan memiliki pandangan sempit akan budaya lain selain budaya miliknya. Dan hal tersebut dapat menyebabkan munculnya sikap fanatisme suku bangsa atau etnosentrisme.

 

Etnosentrisme memiliki definisi sebagai kecenderungan untuk menilai semua kelompok lain menurut standar, perilaku, dan kebiasaan menurut  kelompoknya sendiri.  Dengan kata lain etnosentrime terjadi ketika seseorang atau suatu kelompok tertentu menganggap bahwa kelompok mereka lebih superior daripada kelompok-kelompok lainnya. Dan reaksi lebih ekstrimnya adalah Xenophobia, atau ketakutan pada orang-orang tak dikenal dan orang-orang luar negeri.

 

Terjadinya dampak-dampak negative tersebut turut disebabkan oleh adanya stereotip yang diciptakan masyarakat sendir terhadap kelompok-kelompok lainnya. Stereotip terjadi saat seseorang atau kelompok tertentu memberikan berbagai macam atribut yang digeneralisasi kepada seorang individu tanpa mempertimbangkan karakteristik unik individual tersebut.

 

Untuk mengatasi dan menciptakan pluralisme budaya atau suatu praktik yang mampu menerima berbagai budaya sebagaimana adanya maka dapat melakukan hal-hal berikut dibawah ini, yakni:

  • Hindari membuat assumsi. Dilakukan dengan cara tidak berasumsi bahwa orang lain akan bertindak sesuai pola fikir pribadi.
  • Hindari menghakimi. Dilakukan dengan cara tidak menghakimi perbuatan orang lain yang dilakukan dengan cara berbeda dengan perbuatannya dan mengaggap perbuatan orang lain tersebut adalah sesuatu yang salah.
  • Akui adanya perbedaan. Jangan mengaggap perbedaan-perbedaan antara budaya orang lain dengan budayanya sendiri.