Distribusi Pendapatan Indonesia

Gini Ratio

Tingkat pemerataan pendapatan akan terjadi jika semua orang mendapatkan distribusi pendapatan yang sama rata, atau dengan kata lain Rasio Gini -nya adalah sama dengan nol (Gini Ratio = 0).  Jadi singkatnya rasio Gini adalah rasio tentang distribusi pendapatan dengan angka kisaran 0 sampai dengan 1. dan jika G mendekati 0 berarti distribusi pendapatan yang diterima hampir sama dengan  banyak penduduk. Berikut adalah arti nilai dari besaran gini rasio:

G < 0.3 ————————-artinya ketimpangan rendah

0.3 ≤ G ≤ 0.5 ——————artinya ketimpangan sedang

G > 0.5  ————————-artinya ketimpangan tinggi

Memburuknya index Gini dari 38% (2010) menjadi 41% (2011) adalah kesenjangan kaya-miskin yang mencemaskan.

penghitungan gini rasio

Perhitungan gini rasio adalah daerah A dibagi dengan daerah B. dan jika semakin menyempit daerah A (mendekati garis distribusi sempurna 45 derajat) artinya gini rasio mendekati 0, yang berarti distribusi pendapatannya cenderung semakin merata.  lalu apakah ada negara dengan gini rasio sama dengan o? jawabannya tidak ada karena jika distribusi pendapatan sangat merata maka tidak akan ada barang-barang mewah yang disebabkan  investor barang mewah enggan untuk berinvestasi pada negara tersebut.

mengapa negara yang semakin maju cenderung memiliki gini rasio yang tidak merata?

hal ini dapat terjadi karena adanya kemapuan masyarakat untuk menangkapa kesempatan/peluang usaha yang berbeda-beda, contohnya ada yang berani ambil resiko dan ada pula orang yang tidak mampu dalam mengembangkan kemampuannya dengan baik. sehingga majunya suatu negara yang diimbangi dengan semakin beragamnya keahlian dan kemapuan masyarakat dalam berusaha menimbulkan keberagaman pendapatan serta distribusi pendapatannya jika dibandingkan dengan populasi penduduknya.

lampiran cara penghitungan gini ratio:

https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:KeDeW3e469MJ:statistikaterapan.files.wordpress.com/2008/09/gini-ratio.doc+gini+ratio+adalah&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiHv_31wp8OCwZI3afVvELW-UUoGDtuS30FNQCKjR-pR0AH_LQ6XhHmaz0TUb38xY795XAWLug_NzIZoDtfIVSu7YMJxNipT3iILmK-Wcw8xcA2O06zS7E1vYDxy6b1A7mbG14j&sig=AHIEtbSQ3_OdwLJjhKamEEn0E1gds027Bg

siapa termasuk orang miskin?

Bank Dunia menetapkan “kemiskinan absolout” jika pendapatan di bawah 1 dollar As per hari (Rp 280.000/bulan) dan “kemiskinan menengah” 2 dollar AS/hari.  Sementara Indonesia menetapkan garis kemiskinan per kapita dengan angka tunggal Rp. 243.729/bulan.

garis kemiskinan

lalu bagaimana jika seseorang berpendapatan Rp 250.000/bulan, apakah ia tidak termasuk miskin absolut? jawabannya adalah seseorang dikatakan miskin tidak hanya disebabkan oleh keberadaannya pada atau dibawah garis kemiskinan yang dibuat ekonom dan statitikus konvensional, melainkan seseorang akan dikatan miskin jika pendapatannya sangat tidak dapat memenuhi pengeluarannya atau cenderung tidak bisa menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

 

referensi:

koran kompas, artikel: kemiskinan dan pengangguran oleh Sri-Edi Swasono