Mengapa China sebaiknya iri dengan perekonomian Indonesia?

Perekonomian Indonesia mungkin lambat namun Indonesia memiliki senjata rahasia: konsumernya.

GDP kuartal ketiga tahun  ini menunjukkan adanya pertumbuhan sebesar 6.2% . angka tersebut merupakan angka yang didambakan oleh banyak negara, tapi itu juga merupakan laju paling lambat dalam dua tahun. Yang telah mendorong adanya kesimpulan bahwa ekonomi Asia Tenggara tidak lagi kebal terhadap paparan global (paywall). Permintaan China yang jatuh khususnya untuk komoditas Indonesia seperti kelapa, batubara sawit dan karet menyebabkan penurunan ekspor kuartalan sebesar 2,7% .

Tapi tidak seperti kebanyakan negara Asia lainnya berkembang, Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor. Bank Indonesia melaporkan bahwa penjualan ritel, merupakan ukuran dari konsumsi domestik, tumbuh 22% tahun ke tahun (angka untuk bulan sebelumnya adalah 10,6% yang relatif lamban). Selama bertahun-tahun, belanja konsumen telah terus berkontribusi terhadap pertumbuhan negara (paywall). Dan jika ekonomi Indonesia terus tumbuh sebagaimana yang terjadi maka jutaan lebih akan memasuki kelas menengah pada dekade berikutnya. Ini adalah situasi dimana para perencana sentral Chinna harus iri dengan Indonesia karena Para pejabat Cina telah lama mencoba untuk “menyeimbangkan” ekonomi China untuk lebih bergantung pada belanja konsumen di rumah daripada ekspor.

 

 

(Ket. Gambar:  Shanghai International Financial Center. Pudong, Shanghai)

 

Pada tahun 2006, negara berpenduduk terbanyak di dunia ke-empat  (Indonesia) memiliki 6,6 juta rumah tangga dengan pendapatan disposable tahunan lebih dari $ 10.000. Pada tahun 2011 jumlah itu telah lebih dari dua kali lipat, menjadi 13,7 juta. Jika semua berjalan dengan baik, bisa mencapai sebanyak 31,1 juta pada tahun 2020, memprediksi Euromonitor, sebuah riset pasar yang berbasis di London.

 

 

Saat ini konsumen di Indonesia melakukan konsumsi atas kebutuhan dasar seperti makanan dan perumahan; survei Bank Indonesia ritel menemukan kenaikan penjualan ritel adalah karena permintaan lebih tinggi untuk peralatan rumah, minuman, rokok dan makanan. Euromonitor memperkirakan bahwa antara 2012 dan 2020, belanja konsumen per rumah tangga kemungkinan akan tumbuh sebesar 39,2% dan pendapatan rumah tangga disposable akan meningkat sebesar 40,5%, yang berarti lebih banyak uang untuk pengeluaran tertentu atas barang mewah, mobil atau diletakkan terhadap investasi dan tabungan.

Peritel barang-barang tumah tangga Swedia IKEA membuka gerai pertamanya di Indonesia pada 2014, dan investor asing telah mengalirkan uang ke negara itu, sebagian karena basis konsumen yang kuat. Indonesia menarik $ 5,9 miliar di investasi asing langsung pada kuartal ketiga, sebuah rekor bagi negara.

Pada bulan September, McKinsey menulis bahwa Indonesia “memiliki ekonomi yang jauh lebih stabil dan beragam daripada anggapan kebanyakan orang luar,” (pdf, hal.1) dan mengatakan bahwa jika negara mengkapitalisasi pada pertumbuhan kelas konsumen urban, hal itu bisa menjadi negara dengan ekonomi ketujuh terbesar di dunia , naik dari peringkat saat ini dari 17, pada 2030.  Indonesia kemungkinan akan tumbuh lebih cepat pada tahun 2012 dibandingkan tempat-tempat seperti Vietnam, Rusia, dan Brazil dan India, Bank Dunia memperkirakan akan memukul pertumbuhan 6% untuk tahun ini. Jika konsumsi domestik terus tumbuh, kepulauan ekonomi akan terlindung lebih baik dari kemerosotan ekonomi global.

source: http://www.qz.com

credit to:  goodnewsfromindonesia.org n Lily Kuo